REPUBLIK GUBUK - Ada senja yang tak sepenuhnya turun di lereng Lawangsari hari itu. Ia tertahan oleh hangat perapian tak kasat mata, yang menyala dari sebuah pertemuan jiwa di beranda Cafe Lawangsari, Selasa (10/2/2026). Asap dari cangkir-cangkir mengepul seperti doa-doa kuno yang dibebaskan ke udara, berbaur dengan aroma tanah basah dan gema mantra "Ujub Mantra" yang dirapalkan lirih oleh Romo, sang penjaga adat Gubugklakah. Waktu seolah melambat, memberi ruang bagi yang hadir untuk melakukan ziarah ke dalam diri.
Inilah perjamuan batin bertajuk "Njagong Wedhatama" bukan sekadar diskusi, melainkan sebuah panggilan pulang. Di bawah panduan syahdu Mas Dahri, sang perangkai kata, panggung diserahkan kepada Irfan Afifi, seorang budayawan dan nahkoda Langgar CO. Dengan bahasa yang mengalir laksana sungai, ia tidak membedah Serat Wedhatama, melainkan membukanya lembar demi lembar, membiarkan cahaya dari abad ke-19 itu meresap ke relung-relung kesadaran modern.
"Kemuliaan hidup," bisik Irfan, "tumbuh dari hati yang jernih dan jiwa yang sadar arah pulangnya." Kalimat itu menjadi kunci pembuka. Mahakarya Mangkunegara IV ini, terangnya, bukanlah sekadar aksara beku, melainkan denyut kesadaran yang hidup.
Fokus pun mengerucut pada jantung ajaran itu: Ilmu iku, kelakone kanthi laku... Sebuah kebenaran yang menolak untuk sekadar dihafal. Ia menuntut untuk dijalani, dihidupi, menjadi napas dalam setiap langkah. 'Laku' bukanlah sekadar tindakan, melainkan sebuah jalan sunyi untuk menaklukkan riuh rendah hawa nafsu. Irfan mengisahkan jalan ini sebagai empat anak tangga spiritual (Catur Sembah): tangga pertama adalah Raga yang disiplin, lalu Cipta yang bening, menanjak ke Jiwa yang bersih dari benci, dan tiba di puncak Rasa, tempat sang hamba menghayati kehadiran Tuhannya dalam keheningan batin.
Dalam penuturannya, ajaran luhur Jawa ini bertemu mesra dengan tasawuf Islam. Empat tangga 'sembah' itu laksana cermin bagi jenjang syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat. Keduanya adalah dua jalan setapak yang berbeda, namun bermuara pada samudra yang sama: lautan pengenalan diri, tempat percikan ruh Ilahi bersemayam. "Kosongkan dirimu dari ego," ujar Irfan, "maka kau akan temukan Tuhan di dasarnya."
Pada akhirnya, "Njagong Wedhatama" menegaskan kembali bahwa agama adalah pakaian terindah bagi akhlak (akhlakul karimah). Ilmu sejati bukanlah yang membuat kepala pongah, melainkan yang menundukkan hati dan memuliakan laku.
Semua ini terselenggara dari jalinan hangat Republik Gubuk, Pancasuman, Lampah Klakah, Neras Suara Institute, dan Mukti Laku. Mereka adalah para perawat api kebudayaan, yang dalam sunyi dan ketekunan, memastikan warisan leluhur tidak menjadi abu, melainkan tetap menjadi suluh yang menerangi jalan pulang.
Penulis: Nailur Rohmah
repost: lampahklakah.blogspot.com
